Postingan

Jam Rawan

Selamat Malam, Di jam Rawan ini ingin bertanya pada diri sendiri "apa kabar?" Sudahkah lebih baik dari hari-hari sebelumnya? Bukan tentang kehidupan ini, tapi tentang kamu sendiri. Sudahkah lebih tenang? Sudahkah lebih ikhlas dalam menerima segala yang terasa berat? Sudahkah berusaha bersyukur setiap saat? Meski tugas kita sangat banyak dan cukup berat jangan takut, aku akan selalu menemanimu. Tenang saja, kamu memiliki aku yang tidak akan meninggalkanmu. Hari esok tidak perlu dirisaukan, yang sedang kita jalani sekarang sudah cukup  banyak menguras tenaga dan pikiran. Dari pada merisaukan hari esok lebih baik istirahat, kamu butuh tenaga untuk hari esok yang kamu risaukan itu.  Kalau boleh malam ini aku ingin memujimu. Kamu jauh lebih baik dibanding malam-malam sebelum ini. Entah kenapa, aku hanya merasa seperti itu saja. Meski kita masih belum tau harus memperbaiki dari mana tapi kamu sudah tidak lagi larut dalam penyesalan, itu kemajuan yang baik. Kita sudah cukup luar bia...

Malam Menuju Hari Akhir Tahun

Kalau di ingat-ingat lagi tepat 1 tahun yang lalu, malam menuju hari terakhir tahun 2019, aku sedang sibuk memikirkan bagaimana pertemuanku besok dengan keluargamu, baju apa yang kira-kira cocok untuk bertemu dengan ayah dan ibumu, bagaimana harus bersikap di depan ayah ibu dan adik-adikmu. Membayangkan bagaimana kamu akan memperkenalkan aku dengan keluargamu membuat aku senang sekaligus takut.  Hari berikutnya aku benar-benar bertemu keluargamu, dan ternyata mereka sangat hangat menyambutku. Senyum ibumu saat itu yang membuat aku sangat merasa bersalah hingga detik ini. Nasihat ayahmu, entah mungkin beliau sangat kecewa padaku saat ini. Wajah riang adik-adikmu, aku masih menyimpannya di ingatan dan memory handphoneku. Jadi kenapa kita berpisah?  Entahlah, aku sendiri tidak benar-benar faham kenapa harus mengahkiri perjalanan denganmu secepat ini.  Saat itu aku merasanya kamu banyak berubah, kamu jawab kamu tidak berubah tapi aku saja yang baru mengenalmu. Kita terus berd...

Pelarian

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk apresiasi untuk diriku sendiri. Diriku yang sesungguhnya sudah sangat lelah, tapi sekitar masih saja terlalu semangat untuk terus mendukungku. "Sedikit lagi, ayo semangat" begitu kata mereka. Ada juga beberapa yang menambahkan "ini untuk masa depanmu sendiri". Sungguh terimakasih sebanyak-banyaknya untuk semua dukungan baik moral maupun materi, dan maaf karena tidak bisa terus bertahan di tempat ini. Aku harus pergi, bukan untuk mencari kebahagiaan. Aku sadar penuh bahwa pergiku tidak lantas membawaku kepada semua yang kuinginkan. Aku tidak akan lupa kata-kata bijak yang sudah ratusan kali aku dengar setiap aku mengeluh "hei, hidup ini tidak selalu seperti yang kamu inginkan". Padahal aku sendiri tidak pernah benar-benar tau apa sebenarnya yang aku inginkan. Aku tidak pergi kepada apa yang aku inginkan, aku hanya pergi karna aku merasa sudah tidak sanggup lagi berada di sini.  Sampai saat aku menulis ini hampir belum satup...

Tumbuh bersama tidak berarti sama

Disuatu tempat hiduplah seekor kucing kecil yang manis. Ia tinggal bersama keluarga manusia yang memperlakukan dia dengan sangat baik. Setiap hari salah satu dari keluarga itu pasti menyiapkan dan memberinya makan yang lezat, tempat yang hangat dan nyaman, mengajaknya bermain siang dan malam. Sedangkan di suatu tempat lain tidak jauh dari rumah itu, hidup juga seekor kucing kecil kurus dan tidak terawat. Setiap hari mengais sampah dari rumah ke rumah demi mengisi perutnya. Tidak ada tempat tidur yang hangat dan nyaman, dia tidur dimanapun asal tidak ada yang mengusirnya.  Mereka tumbuh bersama di tempat dan dengan cara yang berbeda. Si kucing rumah tumbuh dengan badan sehat dan kuat juga bulu yang tebal dan indah. Si kucing liar yang kurus tumbuh dengan badan yang tetap kurus, bulunya lusuh tidak terawat dan semakin terbiasa diusir dari satu rumah ke rumah lainnya. Garis wajahnya menggambarkan dengan sangat jelas kekerasan hidupnya. Di usia yang hampir sama fisik dan mental mereka ...

Goresan

Sedikit goresan mungkin bisa mengobati pilu.  Hati ini beku menatap sesuatu yang sangat dirindu. Tidak, bukan ini yang kumau. Lagi-lagi isi kepala tidak tentu. Keegoisan mengeras bak batu. Semakin keras tapi rentan pecah seiring langkah melaju. Menggema suara di telingaku. Nak, yang dilalui tidak selalu untuk dimengerti, cukup dijalani sekuat tenaga. Tuhan terimakasih telah membuat hati ini menerima meski belum lapang.

Bebincang dengan Diri Sendiri

Menulis menjadi hal yang paling sering aku lakukan saat aku ingin berbicara dengan diriku sendiri. Tidak ada teman bicara yang paling mengerti dan menerima aku selain diri sendiri. Mengharap datangnya orang yang bisa menerima sepenuhnya aku hanya sia-sia. Aku semakin terbiasa tentang perbedaanku dengan sebagian banyak orang, aku semakin terbiasa untuk tidak diterima oleh seseorang atau sebagian orang, lagi pula untuk apa menjadi diterima orang lain tapi kehilangan diri sendiri.  Tidak ada orang lain yang lebih sabar menghadapiku selain diriku sendiri. Sabar dengan semua prosesku yang tidak secepat orang lain. Sabar dengan amarah dan egoisku yang lebih besar dari orang lain. Hanya diriku sendiri yang tidak akan meremehkan sebab-sebab dari kesedihanku, sebab-sebab dari air mataku yang jatuh, yang tidak akan menahanku mengungkapkan emosi apapun.  Untuk diriku, Maaf hanya datang saat lelah, Hanya menyapa saat turun air mata, Hanya rindu saat ingin mengadu, Maaf masih tidak tau dir...

Tenang Sendiri

Kamu benar, aku tidak akan menemukan tenang bahkan setelah menghilangkan jejakmu secara instan. Tapi pernahkah kamu merenung dan berfikir, apa selama ini kamu memberi aku tenang? Sayang, kamu tentu tahu sesuatu yang diakhiri dengan baik-baik saja tidak lantas terhindar dari luka, apalagi sesuatu yang diakhiri dengan banyak tanda tanya. Ya tanda tanya itu mungkin hanya milikku, tapi kamu tau bukan ada banyak tanya yang kerap kulontarkan sebelum aku mengakhiri? Ingat apa jawabanmu? Sekiranya boleh aku menjelaskan, sebenarnya jawabanmu tidak pernah menjawab pertanyaanku, jawabanmu tidak pernah mengurangi tanda tanya di pikiranku, bahkan parahnya jawabanmu menimbulkan banyak tanya baru untukku. "Kamu tidak suka ditanya?" Iya sayang aku ingat, selama ini aku sangat hati-hati saat bertanya kepadamu, tapi jawabanmu hanya menimbulkan tanya baru, lalu aku bisa apa? Apa aku harus menyimpan sendiri semua tanyaku dan seolah baik-baik saja di depanmu? Maaf sekali sayang, aku tidak bisa da...