Bebincang dengan Diri Sendiri
Menulis menjadi hal yang paling sering aku lakukan saat aku ingin berbicara dengan diriku sendiri. Tidak ada teman bicara yang paling mengerti dan menerima aku selain diri sendiri. Mengharap datangnya orang yang bisa menerima sepenuhnya aku hanya sia-sia. Aku semakin terbiasa tentang perbedaanku dengan sebagian banyak orang, aku semakin terbiasa untuk tidak diterima oleh seseorang atau sebagian orang, lagi pula untuk apa menjadi diterima orang lain tapi kehilangan diri sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih sabar menghadapiku selain diriku sendiri. Sabar dengan semua prosesku yang tidak secepat orang lain. Sabar dengan amarah dan egoisku yang lebih besar dari orang lain. Hanya diriku sendiri yang tidak akan meremehkan sebab-sebab dari kesedihanku, sebab-sebab dari air mataku yang jatuh, yang tidak akan menahanku mengungkapkan emosi apapun. Untuk diriku, Maaf hanya datang saat lelah, Hanya menyapa saat turun air mata, Hanya rindu saat ingin mengadu, Maaf masih tidak tau dir...