Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Sebuah Mantra

Riuhnya pikiran ditemani gerimis yang merdu adalah galau yang paling candu. Dinginnya mampu mengalahkan hangatnya sapamu. Hadirmu yang dulu nyata kini samar-samar menghilang, menyisakan embun di pelupuk mata yang sayu. "Jangan pergi" Lelah mulutku mengucap tapi tak terdengar suara apapun. Kau semakin samar, entah karena memang kau menjauh atau kabut menghalangi pandanganku. Mungkin kau mencari tenang dari riuhnya pikiranku.  Gerimis masih menemani langkahku yang tidak berhenti merapal mantra, "pulanglah, pulanglah, pulanglah" ~p~

Menduga Sebab

Gambar
not with me ~ Bondan Prakoso Hatiku tidak pernah istirahat dari perihnya. Pikiranku tidak pernah istirahat dari menduga-duga sebab. Sejak awal kita sudah memulainya dengan jarak, mungkinkah sekarang aku menjadikan jarak sebagai sebab? Lelah menduga-duga sebab, sebab kenapa aku merasa kamu sangat jauh, lebih jauh dari kata "tidak bersamaku". ~ p~

Kita semua berarti

Gambar
Tulus~Lagu Untuk Matahari Tidak semua orang tau bagaimana rasanya menjadi tidak berarti. Tidak semua orang bisa menjelaskan rasanya menjadi tidak berarti. Siapa yang sangka, seorang anak SD menyimpan raut wajah kecewa ayah ibunya saat "NEM" ujiannya dibawah rata-rata kawannya. Siapa yang sangka,  seorang anak SMP rela tidur diatas jam 10 malam dan bangun sebelum jam 3 pagi untuk menyeimbangkan pengetahuan umum dan agamanya, tapi tidak pernah ada yang berkata cukup untuk hasil dari semua usahanya. Siapa yang sangka,  seorang remaja SMA rela menahan rindu atas segala sesuatu yang selama ini membuat nyaman. Dia hanya ingin ada seseorang yang juga merindukannya, bukan merindukan apa yang akan dicapainya. Siapa yang sangka, seorang mahasiswa yang berusaha meraih gelar sambil memahami kehidupan yang semakin tidak mudah, masih harus menangis seusai graduatenya . Bukankan tidak ada yang benar-benar cukup untuk membuat kita berarti untuk orang lain. Tidak cukup saat kita m...