Sebuah Mantra
Riuhnya pikiran ditemani gerimis yang merdu adalah galau yang paling candu. Dinginnya mampu mengalahkan hangatnya sapamu. Hadirmu yang dulu nyata kini samar-samar menghilang, menyisakan embun di pelupuk mata yang sayu.
"Jangan pergi"
Lelah mulutku mengucap tapi tak terdengar suara apapun. Kau semakin samar, entah karena memang kau menjauh atau kabut menghalangi pandanganku. Mungkin kau mencari tenang dari riuhnya pikiranku.
Gerimis masih menemani langkahku yang tidak berhenti merapal mantra,
"pulanglah, pulanglah, pulanglah"
~p~
Komentar
Posting Komentar